3/7/23

Bangunan Tempat Musyawarah (Balai Bolon)

 

Bangunan Tempat Musyawarah (Balai Bolon)


"Tulisan ini diambil dari Makalah Penelitian yang dilakukan oleh Drs. Agus Budi Wibowo, M.Si. (peneliti madya  pada Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh) dan diseminarkan pada acara Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan oleh Dit. Tradisi di Aula BPSNT Banda Aceh pada tanggal 3 November 2010, hal. 11-13."



        Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pelaksanaan rapat adat serta pengadilan. Lokasinya adalah di sebelah kiri rumah bolon adat, berorientasi ke timur, dibatasi oleh pattangan puang bolon. Kaki bangunan berupa umpak-umpak batu yang berukuran lebih besar dibandingkan dengan umpak pada bangunan yang lain. Balok-balok penyangga disusun secara horisontal tumpang tindih di atas umpak. Balai bolon adat memiliki beranda 2 tingkat di bagian depan bangunan, di tengah-tengahnya terdapat tangga masuk yang berupa tangga ganda. Pada bagian atap diikatkan seutas tali rotan sebagai alat bantu menaiki bangunan. Pintu terletak tepat di bagian tengah dengan ukuran 80 cm x 150 cm. Dinding-dinding dilengkapi dengan jeruji-jeruji kayu sebagai pengganti fungsi jendela.

Gambar 1. Balai Bolon tampak dari depan (kiri) dan tampak dari belakang (kanan)
(Dok: Agus Budi Wibowo)

        Ornamen pada balai bolon adat berupa: bohi-bohi yang terdapat pada setiap sudut sambahou dan pintu, ulok penta-penta (ular meliuk-liuk) melambangkan harapan akan terkabulnya cita-cita terdapat pada ujung dan kiri kanan bohi-bohi, boraspati pada sekiling dinding halipkip dan urung manik, gatip-gatip pada beranda, bodat marsihutuan pada beranda, pinar sisikni tanggiling pada tiang beranda dan lisplang, porkis marodor pada beranda, pinar bulung andudur pada halipkip, pinar assi-assi pada halipkip, pahu-pahu patundal pada beranda, pinar pahu-pahu pada beranda, pinar bunga hambili pada tiang beranda, pinar bunga bongbong pada halipkip, suleppat pada sambahou, tukkot matua pada beranda, bindu matogu pada beranda, pinar palit pada beranda, pinar raja (garis bersambung melingkar-melingkar tanpa ujung pangkal, sebagai penangkal setan dan roh jahat) terdapat pada beranda.
        Balai bolon adat didominasi oleh warna coklat muda, di kombinasikan dengan warna putih, merah, dan hitam. Bangunan ini berukuran panjang 13,32 m, lebar 6 m, dan tingginya 5 m. Keistimewaannya terdapat pada bagian atap yang dilengkapi dengan urung manik, yaitu miniatur bangunan di atas bubungan. Pada ke empat ujung puncak bubungan (atap dan urung manik) pinar uluni horbou. Pada saat kepercayaan animisme masih dianut oleh masyarakat Simalungun, urung manik berfungsi sebagai tempat roh orang yang menghuni rumah tersebut.

Gambar 2. Urung Manik
(Dok: Agus Budi Wibowo)

        Balai bolon adat memiliki sebuah tiang utama disebut nanggar/bosiha bolon, dengan diameter 35 cm. Tiang ini berfungsi sebagai tiang pengadilan atau tiang hukuman bagi masyarakat yang melakukan kesalahan. Pengadilan dilaksanakan dengan cara orang yang melakukan kesalahan diperintahkan untuk menjilat tiang tersebut. Jika tidak bersalah dia akan selamat. Sebaliknya, jika bersalah ia akan celaka. Bagian dasar tiang dikelilingi oleh 4 buah patung kepala manusia, 3 realistik, dan 1 distilir. Patung-patung tersebut berfungsi untuk melindungi atau menjatuhkan hukuman kepada orang yang bersalah secara gaib. Pada tiang tersebut juga dipahatkan simbol-simbol pertanggalan.

Gambar 3. Tiang Nanggar atas yang banyak terdapat ornamen dengan struktur atap bangunan (kiri), tengah yang ada simbol pertanggalan (tengah), dan wajah manusia (kanan)
(Dok: Agus Budi Wibowo)




Tags:#Simalungun #KerajaanPurba #bangunan_tradisional_simalungun 

  Penulis : Yan Mahesa Damanik 
 Selalu sertakan sumber apabila Anda mengkopas artikel ini!!!, Terimakasih.

3/3/23

Bangunan Rumah Tempat Tinggal


Bangunan Rumah Tempat Tinggal


"Tulisan ini diambil dari Makalah Penelitian yang dilakukan oleh Drs. Agus Budi Wibowo, M.Si. (peneliti madya  pada Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh) dan diseminarkan pada acara Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan oleh Dit. Tradisi di Aula BPSNT Banda Aceh pada tanggal 3 November 2010, hal. 3-11."


Berdasarkan bentuk atapnya, rumah adat tradisional Simalungun dibagi dalam lima bentuk yang disebut pinar (Tanjung, 1997/1998: 39-44) yaitu :
1. Pinar horbou
2. Pinar mussuh
3. Pinar urung manik
4. Pinar bakkiring
5. Pinar rabung lima

1. Pinar Horbou
    Rumah Pinar Horbou pada masa lalu dianggap sebagai induk dan bentuk rumah tradisional dalam satu desa. Bentuknya empat persegi panjang dengan panjang 2,5 - 3 kali lebar bangunan, dan tinggi 1 , 5 - 2 kali lebar bangunan. Rumah tersebut dibangun menghadap ke sebelah Tirnur yaitu arah terbitnya matahari. Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu buah menghadap ke Timur dan satu lagi ke arah Barat. Pada umumnya rumah tradisional tidak mempunyai jendela, sebagai pengganti jendela dibuat lobang berbentuk belah ketupat, salib, oval, segitiga, dan sebagainya. Jumlah anak tangga tidak sama, tergantung pada status dan kedudukan orang yang menempatinya. Bila rumah ditempati raja jumlah anak tangga bilangan ganjil : 3,5,7,9,11 buah. Rumah yang dihuni oleh rakyat biasa jumlah anak tangga bilangannya genap: 4,6,8 buah.
    Pada bagian depan rumah terdapat beranda yang disebut surambih, gunanya untuk tempat beristirahat atau tempat peralatan-peralatan lain dan berfungsi sebagai tempat pengawal pada malam hari. Pada tangga rumah dipasang sebuah rotan bulat disebut balunjei yang berfungsi sebagai pegangan bila hendak masuk atau keluar rumah. Pada ujung balunjei diikatkan sebuah lonceng yang gunanya sebagai pemberitahuan kepada penghuni rumah bila seseorang datang bertamu. Rumah ini sifatnya terbuka tidak mempunyai bilik/kamar tidur; dan setiap penghuni rumah membuat batas yang disebut parholangan. Rumah ini umumnya dihuni antara 6.8.10,12 keluarga.

Gambar 1.  Sketsa Rumah Pinar Horbou
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)

    Salah satu contoh bentuk rumah pinar horbou adalah Rumah Bolon Adat yang terdapat di komplek Istana Pematang Purba Simalungun. Rumah bolon adalah bangunan induk yang merupakan istana.


Gambar 2. Gambar grafis Bagian-bagian Rumah Bolon
(Dok: Repro Gruning dan Djoko Mudji Raharjo, Elizabeth 2003) 



Gambar 3. Rumah Bolon
(Dok: Agus Budi Wibowo)



Gambar 4. Rumah Bolon Tampak Depan (kiri) dan Tampak Belakang (kanan)
(Dok: Agus Budi Wibowo)



Gambar 5. Bagian Dalam Rumah Bolon
(Dok: Agus Budi Wibowo)

Gambar 6. Skema Tata Ruang Rumah Bolon pada Kompleks Istana Pematang Purba


Keterangan:
1. Puang Pardahan (istri raja pemasak makanan tamu)
2. Puang Pardahan (istri raja pemasak nasi raja) atau puang poso
3. Puang Parorot (istri raja penjaga anak)
4. Puang Paninggiran (istri raja pimpinan upacara kesurupan)
5. Puang Pamokkot (istri raja pimpinan upacara memasuki rumah baru)
6. Puang Siappar Apei (istri raja pengatur ruangan dan memasang tikar)
7. Puang Siombah Bajut (istri pimpinan pembawa peralatan makan sirih)
8. Puang Bona
9. Puang Bolon (permaisuri)
10. Puang Panakkut (istri raja pimpinan upacara spiritual)
11. Puang Mata (istri raja tugas umum di rumah bolon)
12. Puang Juma Bolag (istri pimpinan perladangan)
13. Serambi
A1= dihuni oleh istri yang kerjanya memasak makanan tamu
A2= dihuni oleh Puang Poso yang kerjanya memasak makanan raja
KR= kamar tidur raja

    Di bawah kamar tidur raja (KR) terdapat sebuah kamar yang dihuni oleh ajudan yang sudah di”ikasihkon” (dikebiri). Oleh karena raja sering kawin, ruang A (lopou) sudah terlalu sempit sehingga diadakan perluasan ke ruangan B (rumah bolon). B. 3 s/d B 8 B 10 s/d B 12 dihuni oleh selir-selir raja, tetapi B 9 dihuni oleh Puang Bolon (permaisuri).

2. Pinar Mussuh
        Apabila dibandingkan dengan rumah pinar horbou, jenis rumah ini lebih banyak dijumpai di Simalungun, dan umumnya ditempati oleh rakyat biasa. Membangun rumah pinar mussuh tidak sesulit membangun rumah pinar horbou. Rumah pinar mussuh juga menghadap ke Timur, memakai galang kurang lebih 20 buah. Rumah ini juga mempunvai 2 pintu masuk dan ada berandanya. Ruangan rumah sebelah Timur disebut jabu bona, karena pada waktu membangun pangkal kayu dirangkai dari sebelah Timur. Ruangan dibagian ujung kayu disebut jabu ujung, ruangan dibagian tengah disebut jabu tongah. Jabu bona ditempati oleh orang yang dituakan dan hormati, sedangkan jabu tongah, jabu ujung dihuni oleh saudara-saudara atau sepupunya. Pada umumnya rumah ini dihuni oleh 4 sampai 8 keluarga.

Gambar 7. Sketsa Rumah Adat Pinar Mussuh
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)

    Seperti telah dibahas sebelumnya, jenis rumah ini terdapat di Rukut Besi Desa Siboras Kecamatan Silimakuta, yaitu Rumah Adat Rassang (Pasti), yang terdiri dari 8 ruang dengan 4 dapur, Rumah Adat Paropatan terdiri dari 4 ruang dengan 2 dapur, Rumah Adat Bolon terdiri dari 4 ruang dengan 2 dapur, Rumah Adat Parpulungan terdiri dari 6 ruang dengan 4 dapur, dan Rumah Adat Galuh, dan rumah adat ini terdiri dari 4 ruang dengan 2 dapur. Adapun bentuk-bentuk rumah tersebut dapat dilihat pada bagian di bawah ini,

Gambar 8. Rumah adat Paropatan (kiri) dan Rumah adat bolon (kanan)
(Dok: ReproTanjung dkk, 1997/1998) 

 
Gambar 9. Rumah adat Rassang/pasti (kiri) dan Rumah adat parpulungan (kanan)
(Dok: ReproTanjung dkk, 1997/1998) 

Gambar 10. Rumah adat Galuh
 (Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)

    Pada jaman dahulu pola penghuni rumah adat dihuni oleh orang yang mempunyai hubungan darah (satu marga) sehingga komposisi dari tata ruang rumah adat di Rakut Besi (lihat gambar 7) adalah sebagai berikut:

Gambar 11. Sketsa Tata Ruang Rumah Adat Pinar Mussuh

  • Ruang 1: merupakan kamar puang jabu/bona jabu, yaitu orang-orang yang dianggap sebagai pendiri rumah adat. Disebut jabu bona karena pada waktu membangun pangkal kayu dirangkai dari sebelah timur dan ujung kayu di sebelah barat.
  • Ruang 2: dihuni oleh anak boru jabu
  • Ruang 3, 4, 5, 6: dihuni oleh anggota
  • Ruang 7: dihuni oleh tondong Jabu
  • Ruang 8: dihuni oleh sanina jabu (pada bagian ujung kayu)

3. Pinar Bakkiring
        Rumah Pinar Bakkiring adalah rumah rakyat. Bentuk bangunannya berbeda dengan rumah lainnya di atas atap induk bangunan dibuat satu bangunan kecil disebut bakkiring. Atap induk bangunan renggang dengan atap bakkiring berjarak antara 20-30 cm dan kedua atap tersebut dihubungkan dengan dinding bakkiring. Letak bangunannya menghadap ke Timur, Barat, Utara dan Selatan. Bangunan ini bergalang kayu bulat dan besar, tiap-tiap bidang dipasang 4 buah galang, mempunyai satu buah tangga, jumlah anak tangga selalu bilangan genap. Rumah jenis ini jarang ditemukan, barangkali karena sulit membuatnya.

Gambar 12. Sketsa Rumah Adat Pinar Bakkiring 
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)


4. Pinar Rabung Lima
        Bentuk rumah ini termasuk bangunan baru dan sampai sekarang masih banyak dijumpai di desa-desa daerah Simalungun yang ditempati oleh satu keluarga inti. Rumah ini juga dibuat bergalang kayu bulat, kemudian mengalami perkemban gan dengan mengganti galang menjadi tiang yang disebut basikah rassang. Sekarang rumah pinar rambung lima tidak lagi memakai galang, tetapi berpalas dan telah berkembang dengan penambahan-penambahan misalnya, mempunyai kamar tidur, kamar tamu, dapur, teras dan sebagainya.

Gambar 13. Sketsa Rumah adat Rabung Lima dengan Fondasi Galang (atas) dan Fondasi Tiang (bawah)
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)
 

Tags:#Simalungun #KerajaanPurba #bangunan_tradisional_simalungun 

 Penulis : Yan Mahesa Damanik 
 Selalu sertakan sumber apabila Anda mengkopas artikel ini!!!, Terimakasih.

2/17/23

Pinar Simalungun

Seni Ukir Relief Motif Tradisional Simalungun 

Diambil dari:
 buku “Seni Ukir Relief Motif dan Rumah Adat Tradisional Simalungun” Oleh Sayur Lingga Sitopu, Halaman 17 – 40 
Ditulis dan digambar ulang oleh Yan Mahesa Damanik 


        Teknik Untuk mencurahkan karya seni dalam bentuk Ornamen Uhir/ukir juga mempunyai perbedaan antara seniman yang satu dengan yang lainnya, ada yang menggunakan teknik mengorek materi, da nada yang hanya menggunakan pewarnaan serta dalam media anyaman. Mengambil suatu objek atau bentuk Ornamen Uhir/Ukir harus disesuaikan dengan fungsi dari uhir/ukir itu sendiri, misalnya Ornamen Uhir/Ukir bentuk Suleppat yang dipasang pada sambahou (plat level bangunan). Pemakaian Ornamen Uhir pada bangunan tidak didominasi oleh sebuah motif saja namun dapat dimodifikasi dengan penggabungan dari beberapa uhir yang dapat digabungkan tanpa mengurangi makna filosofisnya, serta akan memperindah seni Ornamen Uhir/Ukir itu sendiri, namun harus tetap dijaga keselarasan penggabungan dari beberapa jenis motif yang digunakan. Penggabungan beberapa jenis Ornamen Uhir/Ukir akan menampilkan kreasi baru sehingga tercipta bentuk-bentuk baru tanpa merubah pola dasar Ornamen Uhir yang ada sehingga seni Ornamen Uhir/Ukir semakin berkembang.
        Jenis-jenis atau motif Ornamen Uhir yang dimiliki oleh suku Simalungun sampai saat ini antara lain: 

1. Pinar Suleppat adalah bentuk gambaran tangan yang berkaitan antara satu dengan lainnya menggambarkan keharmonisan persatuan dan kesatuan dan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan kekuatan, persatuan, dan kesatuan, keselarasan dalam bertindak, sehingga tercipta keserasian dan keharmonisan dalam kehidupan. Pinar Suleppat ini biasanya di ukir pada sambahou (plat level) pada bangunan serta pada alat-alat tenun tradisional.