3/3/23

Bangunan Rumah Tempat Tinggal


Bangunan Rumah Tempat Tinggal


"Tulisan ini diambil dari Makalah Penelitian yang dilakukan oleh Drs. Agus Budi Wibowo, M.Si. (peneliti madya  pada Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh) dan diseminarkan pada acara Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan oleh Dit. Tradisi di Aula BPSNT Banda Aceh pada tanggal 3 November 2010, hal. 3-11."


Berdasarkan bentuk atapnya, rumah adat tradisional Simalungun dibagi dalam lima bentuk yang disebut pinar (Tanjung, 1997/1998: 39-44) yaitu :
1. Pinar horbou
2. Pinar mussuh
3. Pinar urung manik
4. Pinar bakkiring
5. Pinar rabung lima

1. Pinar Horbou
    Rumah Pinar Horbou pada masa lalu dianggap sebagai induk dan bentuk rumah tradisional dalam satu desa. Bentuknya empat persegi panjang dengan panjang 2,5 - 3 kali lebar bangunan, dan tinggi 1 , 5 - 2 kali lebar bangunan. Rumah tersebut dibangun menghadap ke sebelah Tirnur yaitu arah terbitnya matahari. Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu buah menghadap ke Timur dan satu lagi ke arah Barat. Pada umumnya rumah tradisional tidak mempunyai jendela, sebagai pengganti jendela dibuat lobang berbentuk belah ketupat, salib, oval, segitiga, dan sebagainya. Jumlah anak tangga tidak sama, tergantung pada status dan kedudukan orang yang menempatinya. Bila rumah ditempati raja jumlah anak tangga bilangan ganjil : 3,5,7,9,11 buah. Rumah yang dihuni oleh rakyat biasa jumlah anak tangga bilangannya genap: 4,6,8 buah.
    Pada bagian depan rumah terdapat beranda yang disebut surambih, gunanya untuk tempat beristirahat atau tempat peralatan-peralatan lain dan berfungsi sebagai tempat pengawal pada malam hari. Pada tangga rumah dipasang sebuah rotan bulat disebut balunjei yang berfungsi sebagai pegangan bila hendak masuk atau keluar rumah. Pada ujung balunjei diikatkan sebuah lonceng yang gunanya sebagai pemberitahuan kepada penghuni rumah bila seseorang datang bertamu. Rumah ini sifatnya terbuka tidak mempunyai bilik/kamar tidur; dan setiap penghuni rumah membuat batas yang disebut parholangan. Rumah ini umumnya dihuni antara 6.8.10,12 keluarga.

Gambar 1.  Sketsa Rumah Pinar Horbou
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)

    Salah satu contoh bentuk rumah pinar horbou adalah Rumah Bolon Adat yang terdapat di komplek Istana Pematang Purba Simalungun. Rumah bolon adalah bangunan induk yang merupakan istana.


Gambar 2. Gambar grafis Bagian-bagian Rumah Bolon
(Dok: Repro Gruning dan Djoko Mudji Raharjo, Elizabeth 2003) 



Gambar 3. Rumah Bolon
(Dok: Agus Budi Wibowo)



Gambar 4. Rumah Bolon Tampak Depan (kiri) dan Tampak Belakang (kanan)
(Dok: Agus Budi Wibowo)



Gambar 5. Bagian Dalam Rumah Bolon
(Dok: Agus Budi Wibowo)

Gambar 6. Skema Tata Ruang Rumah Bolon pada Kompleks Istana Pematang Purba


Keterangan:
1. Puang Pardahan (istri raja pemasak makanan tamu)
2. Puang Pardahan (istri raja pemasak nasi raja) atau puang poso
3. Puang Parorot (istri raja penjaga anak)
4. Puang Paninggiran (istri raja pimpinan upacara kesurupan)
5. Puang Pamokkot (istri raja pimpinan upacara memasuki rumah baru)
6. Puang Siappar Apei (istri raja pengatur ruangan dan memasang tikar)
7. Puang Siombah Bajut (istri pimpinan pembawa peralatan makan sirih)
8. Puang Bona
9. Puang Bolon (permaisuri)
10. Puang Panakkut (istri raja pimpinan upacara spiritual)
11. Puang Mata (istri raja tugas umum di rumah bolon)
12. Puang Juma Bolag (istri pimpinan perladangan)
13. Serambi
A1= dihuni oleh istri yang kerjanya memasak makanan tamu
A2= dihuni oleh Puang Poso yang kerjanya memasak makanan raja
KR= kamar tidur raja

    Di bawah kamar tidur raja (KR) terdapat sebuah kamar yang dihuni oleh ajudan yang sudah di”ikasihkon” (dikebiri). Oleh karena raja sering kawin, ruang A (lopou) sudah terlalu sempit sehingga diadakan perluasan ke ruangan B (rumah bolon). B. 3 s/d B 8 B 10 s/d B 12 dihuni oleh selir-selir raja, tetapi B 9 dihuni oleh Puang Bolon (permaisuri).

2. Pinar Mussuh
        Apabila dibandingkan dengan rumah pinar horbou, jenis rumah ini lebih banyak dijumpai di Simalungun, dan umumnya ditempati oleh rakyat biasa. Membangun rumah pinar mussuh tidak sesulit membangun rumah pinar horbou. Rumah pinar mussuh juga menghadap ke Timur, memakai galang kurang lebih 20 buah. Rumah ini juga mempunvai 2 pintu masuk dan ada berandanya. Ruangan rumah sebelah Timur disebut jabu bona, karena pada waktu membangun pangkal kayu dirangkai dari sebelah Timur. Ruangan dibagian ujung kayu disebut jabu ujung, ruangan dibagian tengah disebut jabu tongah. Jabu bona ditempati oleh orang yang dituakan dan hormati, sedangkan jabu tongah, jabu ujung dihuni oleh saudara-saudara atau sepupunya. Pada umumnya rumah ini dihuni oleh 4 sampai 8 keluarga.

Gambar 7. Sketsa Rumah Adat Pinar Mussuh
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)

    Seperti telah dibahas sebelumnya, jenis rumah ini terdapat di Rukut Besi Desa Siboras Kecamatan Silimakuta, yaitu Rumah Adat Rassang (Pasti), yang terdiri dari 8 ruang dengan 4 dapur, Rumah Adat Paropatan terdiri dari 4 ruang dengan 2 dapur, Rumah Adat Bolon terdiri dari 4 ruang dengan 2 dapur, Rumah Adat Parpulungan terdiri dari 6 ruang dengan 4 dapur, dan Rumah Adat Galuh, dan rumah adat ini terdiri dari 4 ruang dengan 2 dapur. Adapun bentuk-bentuk rumah tersebut dapat dilihat pada bagian di bawah ini,

Gambar 8. Rumah adat Paropatan (kiri) dan Rumah adat bolon (kanan)
(Dok: ReproTanjung dkk, 1997/1998) 

 
Gambar 9. Rumah adat Rassang/pasti (kiri) dan Rumah adat parpulungan (kanan)
(Dok: ReproTanjung dkk, 1997/1998) 

Gambar 10. Rumah adat Galuh
 (Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)

    Pada jaman dahulu pola penghuni rumah adat dihuni oleh orang yang mempunyai hubungan darah (satu marga) sehingga komposisi dari tata ruang rumah adat di Rakut Besi (lihat gambar 7) adalah sebagai berikut:

Gambar 11. Sketsa Tata Ruang Rumah Adat Pinar Mussuh

  • Ruang 1: merupakan kamar puang jabu/bona jabu, yaitu orang-orang yang dianggap sebagai pendiri rumah adat. Disebut jabu bona karena pada waktu membangun pangkal kayu dirangkai dari sebelah timur dan ujung kayu di sebelah barat.
  • Ruang 2: dihuni oleh anak boru jabu
  • Ruang 3, 4, 5, 6: dihuni oleh anggota
  • Ruang 7: dihuni oleh tondong Jabu
  • Ruang 8: dihuni oleh sanina jabu (pada bagian ujung kayu)

3. Pinar Bakkiring
        Rumah Pinar Bakkiring adalah rumah rakyat. Bentuk bangunannya berbeda dengan rumah lainnya di atas atap induk bangunan dibuat satu bangunan kecil disebut bakkiring. Atap induk bangunan renggang dengan atap bakkiring berjarak antara 20-30 cm dan kedua atap tersebut dihubungkan dengan dinding bakkiring. Letak bangunannya menghadap ke Timur, Barat, Utara dan Selatan. Bangunan ini bergalang kayu bulat dan besar, tiap-tiap bidang dipasang 4 buah galang, mempunyai satu buah tangga, jumlah anak tangga selalu bilangan genap. Rumah jenis ini jarang ditemukan, barangkali karena sulit membuatnya.

Gambar 12. Sketsa Rumah Adat Pinar Bakkiring 
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)


4. Pinar Rabung Lima
        Bentuk rumah ini termasuk bangunan baru dan sampai sekarang masih banyak dijumpai di desa-desa daerah Simalungun yang ditempati oleh satu keluarga inti. Rumah ini juga dibuat bergalang kayu bulat, kemudian mengalami perkemban gan dengan mengganti galang menjadi tiang yang disebut basikah rassang. Sekarang rumah pinar rambung lima tidak lagi memakai galang, tetapi berpalas dan telah berkembang dengan penambahan-penambahan misalnya, mempunyai kamar tidur, kamar tamu, dapur, teras dan sebagainya.

Gambar 13. Sketsa Rumah adat Rabung Lima dengan Fondasi Galang (atas) dan Fondasi Tiang (bawah)
(Dok: Repro Tanjung dkk, 1997/1998)
 

Tags:#Simalungun #KerajaanPurba #bangunan_tradisional_simalungun 

 Penulis : Yan Mahesa Damanik 
 Selalu sertakan sumber apabila Anda mengkopas artikel ini!!!, Terimakasih.